Segelintir Pemilih Trump Tersadar Mereka Telah Diperdaya

Oleh: Jacob Sugarman
24 Maret 2017
Sumber: AlterNet

Mayoritas masih tersabuk di atas kereta Trump. Sebagian sedang mencari-cari rem darurat.

Kredit foto: Cuplikan layar YouTube

Pandangan sepintas pada FiveThirtyEight mengesankan Donald Trump masih tidak populer dalam masa kepresidenannya yang ribut dan seumur jagung. Situs tersebut, yang mengambil rata-rata tertimbang jajak pendapat dari American Research Group hingga YouGov, menemukan ketakdisukaannya bertengger pada 50,6% banding kedisukaan 44,4% di antara pemilih probabel atau terdaftar. Selisih ini melebar ke 52,4 banding 41,5 untuk semua orang dewasa Amerika, dan angka-angka ini tidak menjadi penjelasan atas kegagalan heboh American Health Care Act, pengganti Obamacare versi GOP, pekan ini.

Yang tak diungkap oleh angka-angka ini, dan yang akan menjaga presiden tetap berkuasa hingga waktu mendatang, adalah bahwa Trump masih sangat populer di basis Republik. Setelah berupaya melucuti asuransi 14 juta orang tahun depan dan melubangi program pelayanan kesehatan sosial yang mana dia sudah berikrar akan dipertahankan, mengisi kabinetnya dengan para mantan karyawan Goldman Sachs dan mengusulkan anggaran yang akan memotong pendanaan untuk transportasi dan pendidikan, dia masih menikmati 81% tingkat persetujuan di partainya, menurut Quinnipiac. Jajak pendapat YouGov terbaru menemukan sedikitnya 3% pemilih Trump akan memilih ulang jika diberi kesempatan.

Kendati pemilih Trump yang menyesal kebanyakan adalah mitos, minoritas kecil dan kian vokal membuktikan pengecualian untuk kaidah ini. Mereka adalah para ayah yang berduka dan para isteri yang berterus-terang, para tukang listrik Iowa dan para petani Georgia. Kisah mereka mencengangkan, menggeramkan, dan adakalanya tragis, terkadang semua sekaligus. Walaupun mungkin tidak layak mendapat simpati Anda, sekurangnya mereka meminta empati Anda.

Berikut adalah segelintir yang muncul dalam dua bulan sejak Trump memangku jabatan.

1. Helen Beristain asal Granger, Indiana

Menurut Independent, Beristain memberi suara untuk Trump lantaran “percaya bahwa hanya ‘pembunuh’ dan anggota kartel yang akan dideportasi”. Pada hari Jumat, suaminya dijadwalkan dideportasi dari sebuah fasilitas detensi di Kenosha, Wisconsin.

Roberto Beristain telah tinggal di AS sejak beremigrasi dari Meksiko pada 1998. Dia telah memperoleh dokumen untuk bekerja dan rutin memeriksakan diri pada otoritas imigrasi. Tapi dua tahun kemudian dia ditahan usai tak sengaja melintasi perbatasan Kanada dalam tamasya menuju Air Terjun Niagara. Karena menolak mendeportasi diri, dia menjadi incaran ICE di bawah pemerintahan Trump.

Beristain memiliki restoran populer di Granger bernama Eddie’s Steak Shed. Dia dan Helen punya tiga anak.

“[Trump] bilang orang-orang baik tidak akan dideportasi,” tuturnya kepada Indiana Public Media. “Orang-orang baik akan dicek.”

2. Kraig Moss asal Upstate New York

Pernah dijuluki “Trobador Trump”, Moss keliling negara demi Donald Trump, menyanyikan dukungannya di 45 rapat umum. Sebagaimana diwartakan Washington Post, dia sampai menjual peralatan dari bisnis konstruksinya untuk terus mengikuti rangkaian kampanye. (Trobador adalah istilah untuk penggubah dan penampil syair liris Occitan pada Abad Pertengahan Tinggi—penj.)

Moss, yang kehilangan puteranya, Rob, akibat overdosis heroin, percaya presiden saat ini “paling mampu mengakhiri wabah [opioid] yang menjalar di negeri ini”. Trump memberinya alasan untuk percaya. Pada Januari 2016, sang kandidat Republik menyapanya secara pribadi di sebuah rapat umum di Iowa. “Saya tahu apa yang Anda alami,” kata Trump kepada kerumunan. “Dan dia ayah yang hebat. Saya bisa lihat. Dan putera Anda bangga dengan Anda. Saya bertaruh dia anak yang hebat.”

Kepercayaan Moss pada Trump menguap sejak pengenalan American Health Care Act, yang disebutnya “pengkhianatan mutlak terhadap apa yang Trump nyatakan dalam rangkaian kampanye”.

Sang mantan pendukung menangis baru-baru ini dalam wawancara dengan Jake Tapper dari CNN. “Anak saya pria yang baik,” ungkapnya. “Dia—dia berhati besar dan dia tunjukkan hatinya kepada setiap orang.”

3. Tomp Godot asal Clinton, Iowa

Seorang tukang listrik serikat dan pendukung Demokrat seumur hidup, Godot memberikan suaranya untuk Trump karena terbujuk oleh janjinya mengesampingkan para pelobi Washington dan menambah jumlah pekerjaan berbayaran tinggi. Dia juga menganggap Trump “paling mending di antara dua kejelekan” dalam perlombaan presidensial melawan Hillary Clinton.

Kurang dari sebulan memasuki masa kepresidenan Trump, Godot sudah merasa “malu”.

“Saya tidak menduga dia akan berkobar-kobar seperti ini,” tuturnya kepada Washington Post. “Kadang-kadang hampir mirip pemerintahan diktator. Dia membuat banyak kontroversi dan alih-alih memikirkannya dalam-dalam, saya khawatir dia akan segera memasuki situasi buruk.”

4. Kenneth Peek asal Ellaville, Georgia

Jalan Peek menuju Trump sama-sama menjengkelkan seperti pada umumnya. Berkeahlian petani, dia menghabiskan tahun 2016 dengan melakoni pekerjaan konstruksi ganjil setelah kemarau merusak tanah pertanian di mana dia dan isterinya menanam jagung, gandum, dan kacang kedelai. Dan meski asuransi kesehatannya dicakup oleh Affordable Care Act, dia mengklaim premi yang naik mendorongnya mencari alternatif.

Lalu masuklah Donald Trump dan sumpahnya untuk mencabut Obamacare.

Sejak saat itu Peek mendengar apa yang sudah diketahui separuh negara ini: Partai Republik tak pernah punya rencana penggantian, dan legislasi sementara yang mereka susun akan membuat jutaan jiwa rakyat Amerika semakin sulit.

“Cara mereka membicarakannya, seharusnya lebih baik,” katanya kepada Atlanta Journal-Constitution.

Tentang penulis:

Jacob Sugarman adalah editor pelaksana di AlterNet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s