Oleh: Clifton B. Parker
8 Oktober 2014
Sumber: Stanford News dan Futurity

Penelitian baru Stanford menunjukkan bahwa kaum Demokrat dan Republik semakin berkutub—bias-bias politik mereka tumpah ke dalam kehidupan sosial. Sepanjang garis partai dan ideologi, lebih dari ras atau agama sekalipun, rakyat Amerika tidak percaya pada orang-orang yang tidak sejalan secara politik.

Pertentangan politik rakyat Amerika lebih sulit dijembatani ketimbang perbedaan ras atau agama, menurut sebuah studi yang turut dikarang oleh ilmuwan politik Shanto Iyengar.

Penelitian baru Stanford menemukan bahwa orang-orang Amerika semakin terbelah pada garis partai politik—dan sentimen itu lebih kuat dari bias rasial.

“Kami terutama kaget oleh seberapa jauh politik partai telah menjadi uji lakmus untuk hubungan antarpribadi. Pernikahan menyeberangi garis partai sangat langka,” kata Shanto Oyengar, ilmuwan politik Stanford dan direktur Political Communication Laboratory.

Keterangan ini mendemonstrasikan bahwa perasaan bermusuhan terhadap partai politik lawan tertanam atau otomatis di dalam benak pemilih, tulisnya dalam makalah penelitian baru.

“Polarisasi pemegang hak pilih Amerika meningkat dramatis,” kata Iyengar, yang mengarang bersama Sean Westwood, peneliti pascadoktoral di Universitas Princeton. “Kami menunjukkan bahwa tingkat permusuhan partisan di masyarakat Amerika melebihi kebencian rasial.”

Kenapa? Sebagian besar gara-gara ramuan sihir para kandidat yang mengandalkan kampanye negatif dan sumber berita partisan penyaji ulasan pedas, menurut Iyengar, pemegang gelar Harry and Norman Chandler Professor of Communication.

Keretakan yang melebar, ungkapnya, bukan lagi Demokrat vs Republik semata, tapi liberal vs konservatif.

Sikap dan persepsi

Memakai beraneka indikator survey, Iyengar dan Westwood menunjukkan bahwa stereotip negatif terhadap partai lain telah menguat dan bahwa afiliasi politik kini menjadi isyarat relevan untuk keputusan non-politik.

Orang-orang partisan hari ini jauh lebih mungkin untuk menyatakan keberatan terhadap kemungkinan anak lelaki atau anak perempuan menikah menyeberangi garis partai, catat studi tersebut. Bukti dari situs-situs kencan daring mendemonstrasikan bahwa meskipun orang-orang tidak transparan soal politik mereka, ideologi tetap menjadi pertanda ampuh keputusan kencan.

Untuk mencaritahu apakah sikap partisan mempertandakan perilaku non-politik, Iyengar dan Westwood memeriksa bagaimana 1.000 orang memandang resume beberapa murid senior SMU yang bersaing memperebutkan beasiswa. Sebagian dokumen memasukkan isyarat rasial—“presiden African American Student Association”—sementara yang lain mengandung isyarat politik—“presiden Young Republicans”.

Temuan-temuan itu menunjukkan bahwa ras penting. Partisipan Afrika-Amerika memperlihatkan kesukaan terhadap kandidat Afrika-Amerika sebesar 73% banding 27%. Orang kulit putih juga memperlihatkan kesukaan moderat terhadap kandidat Afrika-Amerika, meski dengan selisih jauh lebih kecil.

Namun, kepartisan membuat dampak jauh lebih besar dibanding ras terhadap bagaimana orang-orang berpikir tentang orang lain. Kaum Demokrat maupun Republik memilih kandidat penerima beasiswa dari separtai sekitar 80% walaupun kandidat dari partai lain memiliki kualifikasi akademis lebih kuat.

Isu kepercayaan

Dalam studi lain, para peneliti meminta 800 orang untuk bermain permainan “kepercayaan”, di mana Pemain 1 diberi sejumlah uang dan diberitahu bahwa dia boleh memberikan sebagian, semua, atau tidak sama sekali kepada Pemain 2. Para peneliti menemukan bahwa perlombaan tidak penting—tapi afiliasi partai penting. Orang-orang memberikan jumlah lebih besar ketika mereka bermain dengan seseorang yang sama-sama memiliki identitas kelompok partai mereka.

Iyengar menyatakan—tak seperti ras, jenis kelamin, atau pembagi sosial lain di mana sikap dan perilaku dibatasi oleh norma sosial keadaban dan toleransi—tak ada tekanan serupa untuk mengekang pencelaan terhadap lawan-lawan politik. Orang-orang merasa leluasa mengatakan hal buruk tentang lawan politik mereka, ujarnya.

“Justru, retorika dan tindakan para pemimpin politik mendemonstrasikan bahwa kebencian yang diarahkan kepada golongan oposisi dapat diterima, bahkan pantas,” kata Iyengar. “Sementara kaum Republik memandang sesama partisan sebagai patriotik, berwawasan, dan altruistik, kaum Demokrat dinilai menampakkan ciri sebaliknya.”

Dia percaya naiknya kolegialitas politik akan menuntut intervensi sosial besar yang menambah heterogenitas politik lingkungan dan kelompok pertemanan.

“Yang kita butuhkan adalah hubungan pribadi lebih luas antara kaum Republik dan kaum Demokrat,” kata Iyengar.

Kontak Media:

Shanto Iyengar, Political Science: (650) 723-5509, siyengar@stanford.edu
Clifton B. Parker, Stanford News Service: (650) 725-0224, cbparker@stanford.edu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s